Dinasti – dinasti Penguasa Negeri Cina [Part 17]

DINASTI SONG

Dinasti Song (Hanzi: 宋朝, hanyu pinyin: song chao) adalah salah satu dinasti yang memerintah di Cina antara tahun 960 sampai dengan tahun 1279 sebelum Cina diinvasi oleh bangsa Mongol. Dinasti ini menggantikan periode Lima Dinasti dan Sepuluh Negaradan setelah kejatuhannya digantikan oleh Dinasti Yuan. Dinasti ini merupakan pemerintahan pertama di dunia yang mencetakuang kertas dan merupakan dinasti Cina pertama yang mendirikan angkatan laut. Dalam periode pemerintahan dinasti ini pula, untuk pertama kalinya bubuk mesiu digunakan dalam peperangan dan kompas digunakan untuk menentukan arah utara.

Dinasti Song dibagi ke dalam dua periode berbeda, Song Utara dan Song Selatan. Semasa periode Song Utara (bahasa Tionghoa: 北宋, 960–1127), ibukota Song terletak di kota Bianjing (sekarang Kaifeng) dan dinasti ini mengontrol kebanyakan daerah Cina dalam (daerah suku Han bermayoritas). Song Selatan (bahasa Tionghoa: 南宋, 1127–1279) merujuk pada periode setelah dinasti Song kehilangan kontrol atas Cina Utara yang direbut oleh Dinasti Jin. Pada masa periode ini, pemerintahan Song mundur ke selatan Sungai Yangtze dan mendirikan ibukota di Lin’an (sekarang Hangzhou). Walaupun Dinasti Song telah kehilangan kontrol atas daerah asal kelahiran kebudayaan Cina yang berpusat di sekitar Sungai Kuning, ekonomi Dinasti Song tidaklah jatuh karena 60 persen populasi Cina berada di daerah kekuasaan Song Selatan dan mayoritas daerah kekuasaannya merupakan tanah pertanian yang produktif.[1] Dinasti Song Selatan meningkatkan kekuatan angkatan lautnya untuk mempertahankan daerah maritim dinasti Song. Untuk mendesak Jin

dan bangsa Mongol, dinasti Song mengembangkan teknologi militer yang menggunakan bubuk mesiu. Pada tahun 1234, Dinasti Jin ditaklukkan oleh bangsa Mongol. Möngke KhanKhan ke-empat kekaisaran Mongol, meninggal pada tahun 1259 dalam penyerangan ke sebuah kota di Chongqing. Saudara lelakinya,Kublai Khan kemudian dinyatakan sebagai Khan yang baru, walaupun klaim ini hanya diakui oleh sebagian bangsa Mongol di bagian Barat. Pada tahun 1271, Kubilai Khan dinyatakan sebagai Kaisar Cina.[2] Setelah peperangan sporadis selama dua dasawarsa, tentara Kubilai Khan berhasil menaklukkan dinasti Song pada tahun 1279. Cina kemudian disatukan kembali di bawahDinasti Yuan (1271–1368).[3]

Populasi Cina meningkat dua kali lipat semasa abad ke-10 dan ke-11. Pertumbuhan ini didukung oleh perluasan kultivasi padi di Cina tengah dan selatan, penggunaan bibit beras cepat panen dari Asia selatan dan tenggara, dan surplus produksi bahan pangan.[1][4] Sensus Dinasti Song Utara mencatat populasi sekitar 50 juta. Angka ini menyamai populasi Cina pada saat Dinasti Han dan Dinasti Tang. Data ini diperoleh dari sumber catatan Dua Puluh Empat Sejarah (bahasa Tionghoa: 二十四史). Namun, diperkirakan bahwa Dinasti Song Utara berpopulasi sekitar 100 juta jiwa.[5] Pertumbuhan populasi yang dramatis ini memacu revolusi ekonomi Cina pramodern. Populasi yang meningkat ini merupakan salah satu penyebab lepasnya secara perlahan peranan pemerintah pusat dalam mengatur ekonomi pasar. Populasi yang besar ini juga meningkatkan pentingnya peranan para bangsawan rendah dalam menjalankan administrasi pemerintahan tingkat bawah.

Kehidupan sosial semasa Dinasti Song cukup vibran. Elit-elit sosial saling berkumpul untuk memamerkan dan memperdagangkan karya-karya seni berharga, masyarakat saling berkumpul dalam festival-festival publik dan klub-klub privat, dan di kota-kota terdapat daerah perempatan hiburan yang semarak. Penyebaran ilmu dan literatur didorong oleh penemuan teknik percetakan blok kayu yang telah ada dan penemuan percetakan bergerak pada abad ke-11. Teknologi, sains, filsafat, matematika, dan ilmu teknik pra-modern berkembang dengan pesat pada masa Dinasti Song. Walaupun institusi seperti ujian pegawai sipil telah ada sejak masa Dinasti Sui, institusi ini menjadi lebih menonjol pada periode Song. Hal inilah yang menjadi faktor utama bergesernya elit bangsawan menjadi elit birokrat.

SEJARAH SONG UTARA

Kaisar Song Taizu (memerintah 960–976) menyatukan Cina dengan menaklukkan berbagai daerah-daerah kekuasaan semasa pemerintahannya danb mengakhiri pergolakan periode Lima Dinasti dan Sepuluh Negara. Di Kaifeng, ia mendirikan pemerintahan pusat yang kuat. Ia menjaga stabilitas administrasi negara dengan mempromosikan sistem ujian pegawai sipil dalam menunjuk pejabat-pejabat birokrat. Selain itu, ia juga memulai berbagai proyek-proyek yang bertujuan menjamin efisiensi komunikasi di seluruh kerajaan. Salah satu proyek tersebut adalah pembuatan peta tiap-tiap provinsi dan kota-kota kerajaan secara mendetail dan kesemuannya dikumpulkan menjadi satu atlas yang besar.[6] Ia juga mendorong inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi dengan mendukung berbagai karya-karya ilmiah seperti pembuatan menara jam astronomi yang dibuat oleh insinyur Zhang Sixun.

Kerajaan Song memiliki hubungan diplomatik dengan kerajaan Chola di IndiaFatimid di MesirSriwijaya, dan kerajaan-kerjaan mitra dagang lainnya.[8][9][10][11]. Dari awal sejak didirikannya oleh Taizu, Dinasti Song secara bergantian terlibat dalam peperangan dan hubungan diplomasi dengan bangsa Khitan dari Dinasti Liao di Timur Laut dan bangsa Tangut dari Dinasti Xia Barat di Barat Laut. Dinasti Song menggunakan kekuatan militer dalam usahanya menumpas Dinasti Liao dan merebut kembali Enam belas Prefektur, daerah kekuasaan Khitan yang dianggap sebagai bagian dari Cina.[12] Namun, tentara Song berhasil didesak oleh tentara Liao yang terlibat dalam kampanye perang agresif selama bertahun-tahun di daerah utara Song. Hal ini berhenti pada tahun 1005 dengan ditandatanganinya perjanjian Shanyuan. Bangsa Cina kemudian dipaksa membayar upeti kepada bangsa Khitan, walaupun pembayaran upeti ini tidak memberikan dampak yang besar bagi ekonomi Song karena bangsa Khitan sangat bergantung pada impor barang dari Dinasti Song. Dinasti Song berhasil memenangkan beberapa peperangan dengan bangsa Tangut pada awal abad ke-11. Kemenangan ini mencapai puncaknya di bawah arahan Jenderal Shen Kuo (1031–1095), yang juga seorang cendekiawan dan negarawan. Namun, operasi militer ini pada akhirnya gagal oleh karena salah seorang rival Shen tidak mematuhi perintah langsung dan daerah yang berhasil direbut dari Xia Barat pada akhirnya lepas. Terdapat pula perang yang signifikan melawan Dinasti Lýdari Vietnam dari tahun 1075 sampai dengan tahun 1077 dikarenakan sengketa wilayah perbatasan dan diputusnya hubungan dagang dengan keajaan Đại Việt. Setelah tentara Lý berhasil memberikan kerusakan parah dalam serangannya di Guangxi, komandan Song Guo Kui (1022–1088) kemudian membalas dengan menyerang balik sampai sejauh Thăng Long (sekarang Hanoi). Oleh karena kerugian besar yang ditanggung oleh kedua belah pihak, Komandan Lý Thường Kiệt (1019–1105) kemudian menawarkan perjanjian damai dan mengijinkan kedua belah pihak mundur dari peperangan. Daerah-daerah yang berhasil direbut oleh Song dan Lý kemudian dikembalikan ke pihak masing-masing bersama dengan para tahanan perang pada tahun 1082.

Selama abad ke-11, persaingan politik yang sengit kemudian memecah belah anggota-anggota istana kerajaan oleh karena perbedaan pendekatan, pendapat, dan kebijakan para menteri pejabat dalam menangani ekonomi dan masyarakat Song yang kompleks. Kanselir Fan Zhongyan (989–1052) yang merupakan seorang idealis, mendapatkan pukulan politik yang besar ketika ia berusaha melakukan reformasi dalam memperbaiki sistem perekrutan pejebat, meningkatkan gaji para pegawai rendah, dan menginisiasi program sponsor yang mengijinkan masyarakat luas mendapatkan pendidikan. Setelah Fan dipaksa turun dari jabatannya, Wang Anshi (1021–1086) menjadi kanselir baru istana. Dengan dukungan Kaisar Shenzong (1067–1085), Wang Anshi mengkritik habis-habisan sistem pendidikan dan birokrasi negara. Untuk menyelesaikan apa yang ia lihat sebagai korupsi dan kelalaian negara, Wang mengimplementasikan sejumlah reformasi yang disebut sebagai Kebijakan Baru. Reformasi ini meliputi reformasi pajak tanah, pendirian monopoli pemerintah, dukungan terhadap milisi-milisi lokal, dan pembuatan standar baru dalam ujian kerajaan.Reformasi ini menimbulkan perpecahan politik dalam istana kerajaan. Kelompok Kebijakan Baru Wang Anshi ditentang oleh golongan ‘Konservatif’ yang dipimpin oleh sejarahwan dan Kanselir Sima Guang (1019–1086).Seketika salah satu golongan menjadi mayoritas dalam kementerian istana

para pejabat saingan akan diturunkan jabatannya secara paksa dan diasingkan ke tempat-tempat terpencil di kerajaan.[20] Salah satu korban persaingan politik yang terkenal ini adalah negawaran dan penyair Su Shi (1037–1101). Ia dipenjarakan dan pada akhirnya diasingkan oleh karena mengkritik kebijakan reformasi Wang.[20]

Manakala politik istana Song terpecah dan terfokus pada masalah internal, peristiwa besar yang terjadi di Kerajaan Liao pada akhirnya mendapatkan perhatian Kerajaan Song. Bangsa Jurchen yang merupakan suku taklukkan Kerajaan Liao memberontak dan mendirikan kerajaan mereka sendiri, yakni Jin Dynasty (1115–1234).[22] Pejabat Song Tong Guan(1054–1126) menganjurkan Kaisar Huizong (1100–1125) membentuk aliansi dengan bangsa Jurchen dan melakukan operasi militer bersama untuk menaklukkan Dinasti Liao pada tahun 1125. Namun, buruknya prestasi dan lemahnya kekuatan militer tentara Song terlihat oleh bangsa Jurchen dan dengan segera mereka keluar dari aliansi dengan Song. Bangsa Jurchen kemudian menyerang daerah Song pada tahun 1125 dan 1127. Pada penyerangan tahun 1127, bangsa Jurchen bukan hanya dapat merebut ibukota Song di Kaifeng, namun juga menawan Kaisar Huizong yang telah mengundurkan diri.

penggantinya Qinzong, dan kebanyakan anggota istana.[22] Kejadian ini terjadi pada tahun Jinkang (bahasa Tionghoa:靖康) dan dikenal sebagai peristiwa Penghinaan Jinkang (bahasa Tionghoa: 靖康之恥). Tentara Song yang tersisa kemudian bergabung di bawah perintah Kaisar Gaozong (1127–1162) yang mengangkat dirinya sebagai Kaisar. Dinasti Song kemudian mundur ke selatan Sungai Yangtze dan mendirikan ibukota baru di Lin’an (sekarang Hangzhou). Penaklukan Cina utara oleh bangsa Jurchen dan berpindahnya ibukota dari Kaifeng ke Lin’an merupakan garis pemisah Dinasti Song Utara dengan Dinasti Song Selatan.

Walaupun telah melemah dan didesak ke selatan, Dinasti Song Selatan berhasil meningkatkan ekonomi dan mempertahankan eksistensinya melawan Dinasti Jin. Dinasti Song Selatan memiliki perwira-perwira militer seperti Yue Fei dan Han Shizhong. Pemerintah Song juga mensponsori proyek-proyek besar seperti pembuatan kapal, perbaikan pelabuhan, pembangunan menara api dan gudang pelabuhan untuk mendukung perdagangan maritim luar negeri dan pelabuhan laut internasional seperti QuanzhouGuangzhou, danXiamen, yang menyokong aktivitas perdagangan Cina.[23][24][25] Untuk melindungi dan mendukung kapal-kapal yang melayari Laut Cina Timur dan Laut Kuning (menuju Korea dan Jepang), Asia Tenggara,Samudera Hindia, dan Laut Merah, adalah perlu untuk mendirikan angkatan laut resmi.[26] Dinasti Song oleh karenanya mendirikan angkatan laut permanen pertama Cina pada tahun 1132,[25] dengan markas besarnya di Dinghai.[27] Dengan adanya angkatan laut permanen, Kerajaan Song menjadi siap untuk menghadapi tentara laut Jin di Sungai Yangtze pada tahun 1161, pada Pertempuran Tangdao danPertempuran Caishi. Dalam pertempuran ini, angkatan laut Song menggunakan kapal perang yang diperlengkapi trebuchet untuk melemparkan bom mesiu.[27] Walaupun armada Jin terdiri dari 70.000 orang dalam 600 kapal perang, sedangkan tentara Song hanya terdiri dari 3.000 orang dalam 120 kapal perang,[28] tentara Dinasti Song berhasil memenangkan kedua pertempuran ini oleh karena daya rusak bom yang kuat dan serangan cepat kapal berdayung roda.[29] Sejak saat itu, kekuatan angkatan laut sangat ditekankan. Satu abad setelahnya, angkatan laut Song telah meningkat drastis mencapai 52,000 tentara laut.[27] Pemerintah Song menyita sebagian tanah yang dimiliki oleh para bangsawan untuk meningkatkan pemasukan yang digunakan untuk membiayai proyek ini. Hal ini kemudian menyebabkan ketidakpuasan dan hilangnya kesetiaan para tokoh-tokoh terkemuka dalam masyarakat Song. Namun hal ini tidak menghentikan persiapan defensif Song.[30][31][32] Permasalahan finansial juga diperparah oleh banyaknya orang kaya yang menggunakan koneksi pemerintahan untuk mendapatkan status bebas pajak.

Walaupun Dinasti Song berhasil menahan serang Jin, ancaman besar lainnya muncul di daerah utara Dinasti Jin. Bangsa Mongol yang dipimpin olehJenghis Khan (memerintah 1206–1227) pada awalnya menyerang Dinasti Jin pada tahun 1205 dan 1209 dalam serangan mendadak di sepanjang perbatasannya. Pada tahun 1211, tentara Mongol dalam skala besar dikerahkan untuk menginvasi Jin. Dinasti Jin kemudian dipaksa untuk tunduk dan membayar upeti kepara bangsa Mongol sebagai negara taklukan (vassal). Ketika Jin memindahkan ibukotanya secara tiba-tiba dari Beijing ke Kaifeng, bangsa Mongol melihatnya sebagai pemberontakan. Di bawah kepemimpinan Ögedei Khan (memerintah 1229–1241), Dinasti Jin dan Dinasti Xia Barat ditaklukkan oleh tentara Mongol. Bangsa Mongol juga menginvasi KoreaKhalifah Abbasiyah di Timur Tengah, dan Kievan Rus’ di Rusia. Pernah suatu kali bangsa Mongol beraliansi dengan Song, namun aliansi ini pecah setelah Song merebut kembali ibukota terdahuluKaifengLuoyang dan Chang’an pada saat keruntuhan Dinasti Jin. Pemimpin Mongol Möngke Khan memimpin sebuah operasi militer melawan Song pada tahun 1259, namun meninggal pada tanggal 11 Agustus semasa pertempuran di Chongqing. Kematian Möngke dan berlarut-larutnya krisis kepemimpinan membuat Hulagu Khan menarik mundur sebagian besar tentara Mongol dari Timur Tengah. Walaupun Hulagu beraliansi dengan Kublai Khan, tentaranya tidak dapat membantu serangan melawan Song oleh karena adanya perang dengan Ulus Jochi.

Kubilai terus melakukan serangan terhadap Song dan berhasil mendapatkan daerah pangkalan di tepi sungai selatan Yangtze. Kubilai telah bersiap-siap untuk menyerang Ezhou, namun perang saudara dengan saudaranya Ariq Böke (saingannya dalam merebut takhta Khan Mongol) memaksa Kubilai memindahkan sebagian besar tentaranya kembali ke utara. Tanpa keberadaan Kubilai, tentara Song diperintahkan oleh Kanselir Jia Sidao untuk melakukan serangan dan berhasil memaksa mundur tentara Mongol ke tepi sungai utara Yangtze. Terdapat sedikit bentrokan di perbatasan sampai dengan tahun 1265, ketika Kubilai memenangkan pertempuran di Sichuan. Dari tahun 1268 sampai dengan 1273, Kubilai memblokade Sungai Yangtze dan menggempur Xiangyang. Penggempuran ini merupakan halangan terakhirnya dalam menginvasi daerah lembah aliran Sungai Yangtze. Kublai secara resmi mendeklarasikan berdirinya Dinasti Yuan pada tahun 1271. Pada tahun 1275, 300.000 tentara Song di bawah Kanselir Jia Sidao dikalahkan oleh Jenderal Bayan. Pada tahun 1276, kebanyakan daerah kekuasaan Song telah direbut oleh tentara Yuan. Pada pertempuran Yamen di Delta Sungai Mutiara pada tahun 1279, tentara Yuan yang dipimpin oleh Jenderal Zhang Hongfan pada akhirnya berhasil mengakhiri perlawanan Song. Penguasa terakhir Song, Kaisar Song Bing, yang masih berumur 11 tahun melakukan bunuh diri bersama-sama dengan pejabat Lu Xiufu (陆秀夫) dan 800 anggota kerajaan. Di bawah perintah Kubilai, keluarga kerajaan terdahulu Song dibiarkan hidup dan Kaisar Song Gongdi yang sebelumnya telah digulingkan diturunkan statusnya menjadi bangsawan Ying (Ying Guogong 瀛國公), namun pada akhirnya ia diasingkan ke Tibet dan menjadi pertapa.

MASYARAKAT & KEBUDAYAAN

Zaman pemerintahan Dinasti Song merupakan periode organisasi sosial dan administrasi yang maju dan rumit. Beberapa kota terbesar di dunia pada saat itu berada di Cina, dengan Kaifeng dan Hangzhou berpenduduk lebih dari satu juta jiwa.[1][45] Masyarakat menikmati berbagai hiburan di kota-kota dan bergabung ke dalam berbagai klub-klub sosial. Selain itu, terdapat pula banyak sekolah dan kuil yang memberikan pelayanan pendidikan dan keagamaan.[1] Pemerintah Song mendukung bermacam-macam program kesejahteraan sosial, meliputi pendirian rumah pensiunan, klinik umum, dan pemakaman bagi orang miskin.[1] Dinasti Song juga memiliki layanan pos di seluruh negeri yang meniru model Dinasti Han. Sistem pelayanan pos ini memperlancar komunikasi di seluruh kerajaan.[46]

Walaupun wanita berstatus lebih rendah daripada pria (sesuai dengan etika Konfusius), mereka menikmati banyak hak-hak sosial dan hukum, dan memegang kekuasaan yang besar di rumah dan di bisnis usaha kecil mereka sendiri. Seiring dengan semakin sejahteranya masyarakat Song, para orang tua pengantin perempuan memberikan mas kawin yang semakin besar pula untuk perkawinannya, dan secara alami para wanita mendapatkan banyak hak-hak hukum baru dalam kepemilikan tanah dan harta keluarga.[47] Para wanita juga memiliki status yang setara dengan para pria dalam hal mewarisi harta keluarga[48] Terdapat banyak wanita-wanita terdidik yang terkenal dari Dinasti Song, dan merupakan hal yang umum bagi para wanita untuk mendidik anak laki-

lakinya.[49][50] Sebagai contohnya, ibu seorang jenderal, diplomat, ilmuwan, dan negarawan Shen Kuo mengajari Shen Kuo dasar-dasar strategi perang.[50] Terdapat pula penulis dan penyair wanita yang terkenal seperti Li Qingzhao (1084–1151).[47]

Sebuah kaligrafi karya Huang Tingjian(1045–1105)

Pada periode Dinasti Song, agama memiliki peranan yang penting terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat Cina dan literatur-literatur bertopik spiritual sangatlah populer.Dewa-dewi TaoismeBuddhisme, dan Kepercayaan tradisional Tionghoa, beserta roh-roh leluhur disembah dengan memberikan sesajian. Tansen Sen menyatakan bahwa lebih banyak Bhikkhu dari India yang berkunjung ke Cina semasa Dinasti Song daripada semasa Dinasti Tang (618–907). Dengan banyaknya pendatang asing yang berkunjung ke Cina untuk berdagang ataupun berimigrasi tinggal di sana, berbagai agama-agama asing juga masuk ke Cina. Bangsa-bangsa asing yang ada di Cina pada saat itu meliputi bangsa Timur Tengah yang beragama muslim, Yahudi Kaifeng, dan bangsa Persia yang beragama Maniisme.

Masyarakat Song terlibat dalam kehidupan rumah tangga dan sosial yang vibran dan menikmati berbagai jenis festival publik sepertifestival Lampion dan festival Qingming. Terdapat perempatan-perempatan hiburan di kota-kota besar yang menyediakan hiburan sepanjang malam. Terdapat pula dalang boneka, pemain akrobat, aktor teater, penelan pedang, penjinak ular, pendongeng, penyanyi dan pemusik, pelacur, dan tempat-tempat untuk berelaksasi seperti rumah teh, restoran, dan perjamuan besar.[1][55][56] Masyarakat berpartisipasi dalam klub-klub sosial dalam jumlah yang besar, mliputi klub minum teh, klub makanan eksotik, klub kolektor barang seni dan antik, klub pecinta kuda, klub penyair, dan klub musik. Drama teater juga sangat populer dikalangan elit dan masyarakat umum, walaupun bahasa yang dituturkan oleh aktor di panggung adalah bahasa Cina klasik dan bukanlah bahasa Cina sehari-hari. Empat teater drama terbesar di Kaifeng dapat menampung hingga beberapa ribu penonton per teater. Terdapat pula permainan catur igo dan xiangqi yang dimainkan di rumah untuk melewatkan waktu senggang.

Ujian pegawai negeri sipil dan Shenshi (紳士)

Semasa periode Dinasti Song, terdapat perhatian dan tekanan yang lebih luas terhadap sistem perekrutan pegawai sipil yang didasarkan pada ujian kerajaan. Hal ini bertujuan untuk menyeleksi orang-orang yang paling pantas dalam pemerintahan. Sistem pegawai sipil ini dilembagakan dalam skala kecil semasa Dinasti Sui dan Tang, namun memasuki periode Song, sistem ini menjadi satu-satunya cara pengangkatan para pejabat dalam pemerintahan.[60] Meluasnya teknologi percetakan membantu penyeberaluasan ajaran-ajaran Konfusius dan mendidik lebih banyak kandidat ujian yang memenuhi syarat. Hal ini dapat terlihat pada jumlah peserta ujian yang meningkat dari 30.000 peserta pada awal abad ke-11 menjadi 400.000 peserta pada akhir abad ke-13 setiap tahunnya. Sistem ujian pegawai sipil ini mengijinkan meritokrasimobilitas sosial, dan kesetaraan yang lebih luas. Berdasarkan statistik Dinasti Song, Edward A. Kracke, Sudō Yoshiyuki, dan Ho Ping-ti mendukung hipotesis bahwa tidak ada jaminan seseorang akan mendapatkan kedudukan jabatan yang setara dengan orang tuanya hanya karena ia merupakan anak, cucu, ataupun cicit dari salah seorang pejabat di kerajaanya. Robert Hartwell dan Robert P. Hymes mengkritik model hipotesis ini dengan menyatakan bahwa model ini terlalu menekankan pada peran keluarga inti manakala mengabaikan peranan keluarga jauh dan realitas demografi Song pada saat itu, yakni bahwa terdapat sejumlah besar pria pada tiap-tiap generasi yang tidak memiliki anak lelaki yang bertahan hidup. Banyak pula masyarakat yang merasa terampas haknya oleh apa yang mereka pandang sebagai sistem birokrasi yang memfavoritkan masyarakat kelas pemilik tanah yang dapat membiayai pendidikan dengan mudah. Salah satu kritik terhadap sistem ini datang dari seorang pejabat dan penyair yang terkenal Su Shi. Namun, Su sendiri pun merupakan produk sistem tersebut, seiring dengan berubahnya identitas, kebiasaan, dan perilaku para pejabat yang menjadi kurang aristokratik dan menjadi lebih birokratik pada transisi periode Tang ke Song. Pada awal berdirinya

dinasti, jabatan-jabatan pemerintahan secara disproporsional dipegang oleh dua kelompok elit sosial, yaitu kelompok elit yang memiliki hubungan dengan Kaisar dan kelompok elit profesional yang menggunkan status klan, koneksi keluarga, dan perkawinan untuk mengamankan posisi jabatan.[66] Pada akhir abad ke-11, kedua kelompok elit tersebut perlahan-lahan menghilang dan digantikan oleh berbagai keluarga Shenshi (紳士).[67]

Oleh karena pertumbuhan populasi Cina yang meningkat drastis dan jumlah pengangkatan pejabat yang terbatas (sekitar 20.000 pejabat aktif semasa periode Song), golonganShenshi (紳士) mengambil alih tugas-tugas pemerintahan pada tingkat terbawah. Selain para pejabat yang diangkat oleh pemerintah, yang menjadi anggota golongan sosial elit ini adalah para kandidat ujian, para peserta ujian yang telah lulus tapi belum diangkat, para pengajar, dan pejabat-pejabat yang telah pensiun. Orang-orang yang terpelajar ini mengawasi urusan-urusan daerah lokal dan mensponsori fasilitas-fasilitas yang diperlukan oleh komunitas lokal yang diawasi; Hakim-hakim lokal yang diutus oleh pemerintah ke suatu daerah juga bergantung pada kerjasama dengan beberapa ataupun banyak kalangan elit shenshi daerah tersebut. Sebagai contohnya, pemerintah Song -kecuali pada masa pemerintahan Kaisar Song Huizong- menyisihkan sedikit sekali pendapatan negara untuk membiayai sekolah-sekolah tingkat prefektur (州-zhou) dan kabupaten (縣-xian). Pembiayaan sekolah-sekolah tersebut didapatkan dari pembiayaan privat.Terbatasnya peranan pejabat-pejabat pemerintahan ini berbeda dengan peran pejabat pada periode awal Dinasti Tang (618–907), di mana pemerintah secara ketat meregulasi pasar dan pemerintahan daerah. Pada zaman Dinasti Song, pemerintah melepaskan peranannya dalam meregulasi perdagangan dan sebaliknya bergantung pada anggota shenshi untuk mengerjakan tugas-tugas yang diperlukan dalam komunitas lokal.

Daftar Kaisar Dinasti Song

Di bawah ini adalah daftar kaisar-kaisar yang pernah memerintah pada masa Dinasti Song (9601279). Para kaisar Dinasti Song bermarga Zhao (赵).Pada tahun 1127, Dinasti Song kehilangan sebagian wilayahnya di utara akibat invasi suku Nuzhen (nenek moyang suku Manchu) yang saat itu mendirikan Dinasti Jin. Sejak itu ibukotanya berpindah ke Lin’an,Hangzhou. Dinasti ini terus berdiri hingga invasi Mongol tahun 1279. Kaisar terakhir yaitu Kaisar Bing dari Song melakukan bunuh diri bersama keluarga kerajaan dan sejumlah menteri, dengan demikian berakhirlah riwayat Dinasti Song. Dalam sejarah Dinasti Song dibagi dua yaitu Song Utara (sebelum invasi Nuzhen) dan Song Selatan (setelah ibukota pindah ke Lin’an hingga invasi Mongol)

Berdasarkan konvensi penyebutan nama kaisar Song adalah Song (nama dinasti) + nama kuil (contoh: Song Taizu, 宋太祖)

Dinasti Song Utara, 960- 1127

Nama kuil
(Miao Hao
庙号)
Nama anumerta
(Shi Hao
谥号)
Nama asli Masa
bertahta
Nama rezim (Nian Hao 年号) dan tahun pemakaiannya
Taizu (太祖 Tàizǔ) 大孝 (Daxiao) Zhao Kuangyin (赵匡胤 Zhào Kuāngyìn) 960976
  • Jianlong (建隆 Jiànlóng) 960-963
  • Qiande (乾德 Qiándé) 963-968
  • Kaibao (开宝 Kāibǎo) 968-976
Taizong (太宗 Tàizōng) 文武 (Wenwu) Zhao Kuangyi (赵匡义 Zhào Kuāngyì) belakangan diubah menjadi Zhao Guangyi (赵光义 Zhào Guāngyì) 976-997
  • Taipingxingguo (太平兴国 Tàipíngxīngguó) 976-984
  • Yongxi (雍熙 Yōngxī) 984-987
  • Duangong (端拱 Duāngǒng) 988-989
  • Chunhua (淳化 Chúnhuà) 990-994
  • Zhidao (至道 Zhìdào) 995-997
Zhenzong (真宗 Zhēnzōng) 元孝 (Yuanxiao) Zhao Heng (赵恆 Zhào Héng) 997-1022
  • Xianping (咸平 Xiánpíng) 998-1003
  • Jingde (景德 Jǐngdé) 1004–1007
  • Dazhongxiangfu (大中祥符 Dàzhōngxiángfú) 1008–1016
  • Tianxi (天禧 Tiānxǐ) 1017–1021
  • Qianxing (乾兴 Qiánxīng) 1022
Renzong (仁宗 Rénzōng) 明孝 (Mingxiao) Zhao Zhen (赵禎 Zhào Zhēn) 1022–1063
  • Tiansheng (天聖 Tiānshèng) 1023–1032
  • Mingdao (明道 Míngdào) 1032–1033
  • Jingyou (景祐 Jǐngyòu) 1034–1038
  • Baoyuan (宝元 Bǎoyuán) 1038–1040
  • Kangding (康定 Kāngdìng) 1040–1041
  • Qingli (庆厉 Qìnglì) 1041–1048
  • Huangyou (皇祐 Huángyòu) 1049–1054
  • Zhihe (至和 Zhìhé) 1054–1056
  • Jiayou (嘉祐 Jiāyòu) 1056–1063
Yingzong (英宗 Yīngzōng) 宣孝 (Xuanxiao) Zhao Shu (赵曙 Zhào Shù) 1063–1067
  • Zhiping (治平 Zhìpíng) 1064–1067
Shenzong (神宗 Shénzōng) 聖孝 (Shengxiao) Zhao Xu (赵頊 Zhào Xū) 1067–1085
  • Xining (熙宁 Xīníng) 1068–1077
  • Yuanfeng (元丰 Yuánfēng) 1078–1085
Zhezong (哲宗 Zhézōng) 昭孝 (Zhaoxiao) Zhao Xu (赵煦 Zhào Xǔ) 1085–1100
  • Yuanyou (元祐 Yuányòu) 1086–1094
  • Shaosheng (绍聖 Shàoshèng) 1094–1098

*Yuanfu (元符 Yuánfú) 1098–1100

Huizong (徽宗 Huīzōng) 顯孝 (Xianxiao) Zhao Ji (赵佶 Zhào Jí) 1100–1125
  • Jianzhongjingguo (建中靖国 Jiànzhōngjìngguó) 1101
  • Chongning (崇宁 Chóngníng) 1102–1106
  • Daguan (大观 Dàguān) 1107–1110
  • Zhenghe (政和 Zhènghé) 1111–1118
  • Chonghe (重和 Chónghé) 1118–1119
  • Xuanhe (宣和 Xuānhé) 1119–1125
Qinzong (钦宗 Qīnzōng) 仁孝 (Renxiao) Zhao Huan (赵桓 Zhào Huán) 1126–1127
  • Jingkang (靖康 Jìngkāng) 1125–1127

[sunting]Dinasti Song Selatan, 1127-1279

Nama kuil
(Miao Hao
庙号)
Nama anumerta
(Shi Hao
谥号)
Nama asli Masa
bertahta
Nama rezim (Nian Hao 年号) dan tahun pemakaiannya
Gaozong (高宗 Gāozōng) 憲孝 (Xianxiao) Zhao Gou (赵構 Zhào Gòu) 1127–1162
  • Jingyan (靖炎 Jìngyán) 1127–1130
  • Shaoxing (绍兴 Shàoxīng) 1131–1162
Xiaozong (孝宗 Xiàozōng) 成孝 (Chengxiao) Zhao Shen (赵昚 Zhào Shèn) 1162–1189
  • Longxing (隆兴 Lóngxīng) 1163–1164
  • Qiandao (乾道 Qiándào) 1165–1173
  • Chunxi (淳熙 Chúnxī) 1174–1189
Guangzong (光宗 Guāngzōng) 慈孝 (Cixiao) Zhao Dun (赵惇 Zhào Dūn) 1189–1194
  • Shaoxi (绍熙 Shàoxī) 1190–1194
Ningzong (宁宗 Níngzōng) 恭孝 (Gongxiao) Zhao Kuo (赵扩 Zhào Kuó) 1194–1224
  • Qingyuan (庆元 Qìngyuán) 1195–1200
  • Jiatai (嘉泰 Jiātài) 1201–1204
  • Kaixi (开禧 Kāixǐ) 1205–1207
  • Jiading (嘉定 Jiādìng) 1208–1224
Lizong (理宗 Lǐzōng) 安孝 (Anxiao) Zhao Yun (赵昀 Zhào Yún) 1224–1264
  • Baoqing (宝庆 Bǎoqìng) 1225–1227
  • Shaoding (绍定 Shàodìng) 1228–1233
  • Duanping (端平 Duānpíng) 1234–1236
  • Jiaxi (嘉熙 Jiāxī) 1237–1240
  • Chunyou (淳祐 Chúnyòu) 1241–1252
  • Baoyou (宝祐 Bǎoyòu) 1253–1258
  • Kaiqing (开庆 Kāiqìng) 1259
  • Jingding (景定 Jǐngdìng) 1260–1264
Duzong (度宗 Dùzōng) 景孝 (Jingxiao) Zhao Qi (赵祺 Zhào Qí) 1264–1274
  • Xianchun (咸淳 Xiánchún) 1265–1274
Gongzong (恭宗 Gōngzōng)/ Kaisar Gong dari Song (恭帝 Gōngdì) 孝恭 (Xiaogong) Zhao Xian (赵顯 Zhào Xiǎn) 1275
  • Deyou (德祐 Déyòu) 1275–1276
Duan Zong (端宗 Duān Zōng) 愍孝 (Qixiao) Zhao Shi (赵昰 Zhào Shì) 1276–1278
  • Jingyan (景炎 Jǐngyán) 1276–1278
Kaisar Bing dari Song (宋帝昺) Zhao Bing (赵昺 Zhào Bǐng) 1278–1279
  • Xiangxing (祥兴 Xiángxīng) 1278–1279

[SUMBER : WIKIPEDIA]

Pos ini dipublikasikan di The Legend. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s